Artikel

Pengasingan Para Pemimpin Republik Indonesia di Bangka dan Brastagi Tanggal 22-31 Desember 1948

Pada pukul 09.30 WIB tanggal 22 Desember 1948 para pemimpin republik yang ditahan pasukan Belanda di Istana Kepresidenan Yogyakarta dibawa menuju Lapangan udara Maguwo. Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Drs. Muhammad  Hatta dan Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim masing-masing naik jip yang dikawal tentara Belanda. Sedangkan Penasehat Presiden Sutan Sjahrir, Sekretaris Negara Dr. AG. Pringgodigdo, Komodor Udara Suryadarma dan Ketua KNPI Mr. Assaat naik sebuah truk dengan dikawal 2 tentara. Sekitar pukul 10.00,  pesawat Pembom B-25 Mitchell, milik Angkatan Udara Hindia Belanda (pesawat Bomber menengah bermesin ganda, buatan Amerika yang diproduksi oleh North American Aviation (NAA) dan dinamai Mitchell untuk menghormati Jenderal William “Billy” Mitchell, pelopor penerbangan militer Amerika Serikat) meninggalkan Yogyakarta dengan membawa 7 penumpang ; Dr. AG. Pringgodigdo  dan Suryadarma berada di kokpit, sementara Soekarno, Drs. Muhammad  Hatta, Sutan Sjahrir, Agus Salim dan Mr. Assaat duduk di atas kotak-kotak kosong dekat bagian Markonis (operator Radio/komunikasi) di bawah pengawasan seorang prajurit dan Mr. Van Hof  kepala bagian penyelidikan Kejaksaan. Pesawat singgah di Lapangan udara Cililitan Jakarta selama 1 jam, Mr. Van Hof turun dari pesawat dan diganti orang lain. Pesawat mendarat di Lapangan udara Kampung Dul Pangkalpinang Bangka pada pukul 13.45 dan Drs. Muhammad  Hatta, Suryadarma, AG. Pringgodigdo dan Mr. Assaat diperintahkan turun. Sementara Soekarno, Agus Salim dan Sutan Sjahrir bertahan di dalam pesawat dan kembali mengudara meninggalkan Lapangan udara Pangkalpinang. Drs. Muhammad  Hatta dan rombongan diangkut menggunakan 2 mobil, dikawal sebuah Jip dengan tentara bersenjata dan diikuti sebuah truk berisi tentara Corps Speciale Troepen lengkap bersenjata. Setelah menempuh perjalanan selama hampir 4 jam, tepatnya jam 18.30, iring-iringan berhenti di depan sebuah bangunan kosong di puncak Bukit dekat Kota Mentok Bangka.  Bangunan ini pernah berfungsi sebagai hotel pegunungan, tetapi tampak terabaikan selama bertahun-tahun dan sekarang tampak lusuh dan menyedihkan. Beberapa renovasi sedang dilakukan, pintu dan jendela baru dicat (masih basah) tetapi lantainya tidak tersapu dan tidak ada lampu listrik atau air yang mengalir. Tidak ada satu pun perabot yang terlihat, bahkan kursi untuk diduduki. Malam pertama itu rombongan Drs. Muhammad  Hatta makan roti sambil berdiri di sekitar lampu minyak kecil. Untuk perlengkapan tidur masing-masing menerima kasur, bantal, selimut dan kelambu. Kelambu tidak bisa dipakai  karena tidak ada tali dan paku untuk memasangnya. Tentu saja tidak ada kesempatan mandi karena tidak ada air.

Sementara itu rombongan Presiden Republik Indonesia Soekarno, Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim dan Sutan Sjahrir terus diterbangkan lagi dengan pesawat yang sama menuju Medan, Sumatera Utara, untuk kemudian diasingkan ke Brastagi dan kemudian dipindahkan ke Parapat (Mulyana, dkk, 2003:14). Di Brastagi yang terletak 70 km dari arah Selatan Kota Medan, Bung Karno, Haji Agus Salim dan Sutan Sjahrir, hanya diasingkan selama 10 hari, karena kekhawatiran Belanda akan dukungan rakyat Tanah Karo yang akan membebaskan mereka dari tahanan, kemudian Belanda memindahkannya ke Parapat di sisi Barat Danau Toba. Dalam suratnya kepada Mayor Geelkerken pada tanggal 31 Desember 1948, Soekarno menyatakan menginginkan dunia bebas dari penjajahan, tidak membenci orang Belanda dan mengucapkan terima kasih atas pelayanan selama berada di Brastagi. Haji Agus Salim dan Sutan Sjahrir juga membuat surat pribadi yang ditujukan kepada Mayor Geelkerken. Tiga tokoh tersebut juga menandatangani pernyataan bahwa selama di Brastagi menerima fasilitas dan perlakuan baik dari tanggal 22-31 Desember 1948.[1] 

Kembali ke Menumbing Bangka,  rombongan Drs. Muhammad  Hatta yang terdiri 4 orang ini menempati sebuah kamar berukuran 5,4 x 6,4 meter, jendela ditutup dan dilapisi kawat berduri sehingga tidak ada udara segar bisa masuk.  Suasana kamar lembab menyebabkan handuk tidak pernah kering.  Tas, sepatu dan pakaian menjadi berjamur. Pada malam hari hawa dingin terasa melalui celah-celah jendela.  Pada tanggal 23 Desember 1948, perabotan dan perlengkapan  mulai berdatangan  antara lain 1 bangku/kursi, 1 meja, sendok, garpu, pisau untuk makan, tali untuk memasang kelambu,  lampu minyak yang lebih besar  untuk memudahkan membaca dan air untuk mandi.  Tidak ada piring dan cangkir. Disediakan juga beberapa permainan dan bahan bacaan untuk mengusir kejenuhan. Hari Jum’at tanggal 24 Desember, lampu listrik mulai dipasang namun belum bisa menyala, karena motor pembangkit sumber listrik dalam kondisi rusak. Mereka melewatkan sholat Jum’at karena terkurung dalam kamar sempit ini. Keesokan harinya, Sabtu tanggal 25 Desember, mereka mendapat permainan baru yakni catur dan kartu remi. Lampu listrik tetap belum bisa menyala. Minggu, 26 Desember lampu listrik diganti lampu ranjau (lampu kapal) sehingga penerangan kamar lebih baik. Senin, 27 Desember mendapatkan perlengkapan makan seperti piring baru, cangkir, gelar dan sendok. Selasa, 28 Desember, perabotan baru datang lagi yakni 1 set kursi. Rabu, 29 Desember mendapat lemari kecil untuk menggantung baju masing-masing 1 buah. Selanjutnya 2 pintu WC dan kamar mandi dilepas dan dibawa keluar ruangan, sehingga bau terasa menyengat. Apalagi saat malam, angin dingin dan bau dari WC berhembus kuat. Usaha menutupinya dengan menggunakan  meja-meja tidak mengurangi bau menyengat ini. Kamis, 30 Desember satu pintu dipasang kembali setelah mendengar keluhan atas bau WC. Perabotan baru bertambah dengan datangnya bangku baru, kasur, bantal, selimut dan seprai. Motor pembangkit listrik mulai beroperasi dan menyalakan lampu listrik, sehingga penerangan kamar lebih baik lagi. Hari Jum’at tanggal 31 Desember 1948, kamar sempit ini bertambah lagi 2 penghuni baru, yakni Mohammad Rum  Ketua Delegasi Republik Indonesia dan Ali Sastroamijoyo Menteri Pengajaran.[2] Total ada 6 orang yang mendiami kamar berukuran 36 meter persegi. Bisa dibayangkan ruangan sesempit itu untuk dihuni 6 orang pemimpin Republik Indonesia beraktivitas, tanpa bisa keluar menikmati sinar matahari dan menghirup udara segar. Akibatnya Drs. Muhammad  Hatta sering menderita sakit kepala dan pilek.

 


[1] Leeuwarder courant : hoofdblad van Friesland dan Het nieuws : algemeen dagblad edisi 8 Januari 1949

[2] Mr Assaat membuat laporan detail kondisi di Menumbing sejak tanggal 22 Desember 1948 sampai 14 Januari 1949 dan diserahkan ke KTN yang berkunjung pada tanggal 15 Januari 1949. Laporan berjudul Exiles on Menumbing ini tersimpan dalam arsip PBB dan dapat diakses di https://search.archives.un.org.

Penulis: 
Ali Usman Pamong Budaya
Sumber: 
DISPARBUDKEPORA KEP. BABEL
Tags: 
Pengasingan Pemimpin Republik | Pengasingan Sukarno | Pengasingan Hatta | Pengasingan Bangka | Mentok | Menumbing | Pesanggrahan Mentok | Pesanggrahan Menumbing | Pangkalpinang | Revolusi Kemerdekaan

Artikel

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/01/31/pariwisata-indonesia-yang-makin-memukau
DISPARBUDKEPORA KEP. BABEL
DISPARBUDKEPORA KEP. BABEL
DISPARBUDKEPORA KEP. BABEL
12/12/2021 | DISPARBUDKEPORA KEP. BABEL
12/12/2021 | DISPARBUDKEPORA KEP. BABEL
12/12/2021 | DISPARBUDKEPORA KEP. BABEL
12/12/2021 | DISPARBUDKEPORA KEP. BABEL