Salah satu tema yang menarik dalam kajian sejarah Bangka Belitung adalah demografi. Menurut PBB (1958) Demografi adalah studi ilmiah terhadap populasi manusia, terutama terhadap jumlah, struktur, dan perkembangannya. Masalah demografi lebih ditekankan pada perubahan dinamika kependudukan karena pengaruh perubahan kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas) dan migrasi. Sebagai wilayah penambangan dan berkembang, pertumbuhan penduduk yang tinggi disebabkan migrasi yang telah berlangsung sejak abad ke-18. Indikator terlihat dari penambahan penduduk etnis China dan ketimpangan jenis kelamin. Angka kelahiran (fertilitas) dan kematian (mortalitas) juga menjadi faktor penting dalam memahami pertumbuhan penduduk, apalagi dikaitkan dengan peristiwa peperangan dan wabah penyakit. Sebagai salah satu wilayah di Pulau Bangka, pertumbuhan penduduk Bangka Tengah tidak terlepas dari faktor-faktor demografi tersebut. Kesempatan ini saya akan menguraikan perkembangan penduduk yang masuk wilayah Kabupaten Bangka Tengah sejak zaman pendudukan Inggris (1813-1816), Hindia Belanda (1816-1942) dan Republik Indonesia.
Catatan pertama diperoleh dari buku An Exposition Of The Relations Of The British Government With The Sultaun And State Of Palembang And The Designs Of The Netherlands' Government Upon That Country karya MH. Court (Residen Inggris untuk Palembang-Bangka 1813-1816) dan diterbitkan pada tahun 1821. Data penduduk Bangka pada masa penjajahan Inggris tercantum pada halaman terakhir 260. Kampung yang tercatat berjumlah 31 wilayah dengan jumlah penduduknya 13.104 jiwa, terdiri dari 5.538 Laki-laki, 3.278 perempuan dan 4.288 anak-anak. Secara etnis terdiri dari penduduk China 2.123 orang, pekerja China 2.519 orang, Melayu 2.711 orang dan Orang Gunung 5.751 orang.
Dari seluruh wilayah Kabupaten Bangka Tengah, hanya Koba yang tercatat dalam buku tersebut dengan jumlah penduduk Melayu berjenis kelamin laki-laki sebanyak 28 orang. Tidak ada penduduk dari etnis China maupun orang Gunung dan tidak ada penduduk berjenis kelamin perempuan. Mengenai sedikitnya penduduk Koba saat itu, M.H. Court menjelaskan dalam halaman 188-189 sebagai berikut:
“To the southward of Pankal Pinang, about twenty eight miles distant, on the east coast, at a place called Coba, four small mines have been opened by twenty eight Malayese, who went from Minto for that purpose ; who delivered one hundred and fifty peculs, in the year 1816, included in Pankal Pinang collections. This place, which lays up a river of the same name, three hours' journey, was formerly inhabited by natives of the island, and in the Palembang books is recorded to have furnished one hundred men for feudal services . The population is now confined to the few Malayese above mentioned.”
Tabel 1.
Perkembangan Penduduk Bangka Tengah 1816-2019
|
No |
TAHUN |
LAKI-LAKI |
PEREMPUAN |
TOTAL |
KETERANGAN |
|
1 |
1816 |
28 |
|
28 |
Masuk wilayah Pangkalpinang dengan total jumlah penduduk 1515 |
|
2 |
1848 |
|
|
6,557 |
distrik Koba dan distrik Sungaiselan, tidak termasuk wilayah yang masuk distrik Pangkalpinang |
|
3 |
1930 |
|
|
23,889 |
distrik Koba dan distrik Sungaiselan, tidak termasuk wilayah yang masuk distrik Pangkalpinang |
|
4 |
1971 |
30,453 |
28,816 |
59,269 |
Meliputi 3 kecamatan : Pangkalanbaru, Koba dan Sungaiselan |
|
5 |
1980 |
44,013 |
41,031 |
85,044 |
Meliputi 3 kecamatan : Pangkalanbaru, Koba dan Sungaiselan |
|
6 |
1990 |
51,644 |
49,556 |
101,200 |
Meliputi 3 kecamatan : Pangkalanbaru, Koba dan Sungaiselan |
|
7 |
2000 |
56,784 |
54,323 |
111,107 |
Meliputi 3 kecamatan : Pangkalanbaru, Koba dan Sungaiselan |
|
8 |
2003 |
59,854 |
57,897 |
117,751 |
Meliputi 4 kecamatan : Pangkalanbaru, Koba, Sungaiselan, dan Simpangkatis |
|
9 |
2010 |
83,757 |
77,856 |
161,613 |
Meliputi 4 kecamatan : Pangkalanbaru, Koba, Sungaiselan, Simpangkatis, Namang dan Lubuk Besar. |
|
10 |
2019 |
102,919 |
93,277 |
196,196 |
Meliputi 4 kecamatan : Pangkalanbaru, Koba, Sungaiselan, Simpangkatis, Namang dan Lubuk Besar. |
Sumber : An Exposition Of The Relations Of The British Government With The Sultaun And State Of Palembang And The Designs Of The Netherlands' Government Upon That Country, Schilderungen aus Holländisch Ostindien, Volkstelling in Nederlandsch Indie 1930, Sensus Penduduk 1971-2010, Bangka Tengah Dalam Angka 2003 dan 2019.
Tentunya fakta ini menarik jika dibandingkan catatan-catatan tentang Koba sekitarnya sebelum dikuasai Bangsa Inggris. Kontrak politik antara Jan van Harde sebagai wakil VOC dengan 12 penguasa lokal (Coloor, Bobos, Perlangh, Rangkat, Jambou, Kajuana, Pangobotan, Papoulot, Perlangh, Pajatonte, Pinangh, dan Pajabongcou) pada tanggal 25 Agustus 1668 memberi gambaran perkembangan wilayah sepanjang pantai timur Bangka. Perlang disebutkan 2 kali dengan nama penguasa yang berbeda, yakni Pamantra dan Panoulock. Artinya saat itu terdapat 2 wilayah di pesisir timur Bangka yang bernama Perlang atau Perlang dipimpin 2 penguasa. Sampai saat ini hanya satu yang dapat diidentifikasi, yakni Desa Perlang Kecamatan Lubuk Besar Kabupaten Bangka Tengah. Ada 2 wilayah yang menggunakan Kulur yakni Pangkal Kulur di Sungai Semubur (kini masuk Desa Pangkalniur Kabupaten Bangka) dan Desa Kulur Kecamatan Lubuk Besar. Ada 3 wilayah yang menggunakan nama mirip Kayuara, yakni Kayuarang di Bangka Barat, Kayuaru sebelum Air Bara (berdasarkan peta HM. Lange 1846) dan Kayuara di Desa Perlang Kecamatan Lubuk Besar. Penggunaan nama Rangkat hanya dipakai untuk wilayah antara Kulur dan Trubus, tidak ditemukan di wilayah lain. Untuk memastikannya, kita melihat kembali 3 peta abad ke-18 yakni Descripcion Delestrecho de Banca, Nouveau plan du détroit de Banca dan Plan du détroit de Banca. Peta pertama tercantum Colook, Perlang dan Nadi. Peta kedua tercantum Coolook, Perlang, Cayalara dan Nadi. Peta ketiga tercantum Coolook, Perlang dan Cayalara. Peta-peta tersebut sudah memetakan keberadaan Sungai Kulur, Sungai Perlang dan Sungai Kayuara. Jadi apa yang dinyatakan saudara Mei Lanto dalam buku ini, dari 12 wilayah terdapat 4 wilayah yang masuk kecamatan Lubukbesar Kabupaten Bangka Tengah, yakni Coloor (Kulur), Perlangh (Perlang), Rangkat, dan Kajuara (Kayuara) sudah benar dan sesuai fakta.
Peristiwa sejarah lain terjadi pada tahun 1722-1732, saat Sultan Anom Alimuddin dari Kesultanan Palembang membangun pusat pertahanan di Koba sebagai bentuk perlawanan terhadap Sultan Mahmud Badaruddin I dan menguasai sebagian besar Pulau Bangka saat itu. Artinya selama 10 tahun Koba memainkan peran penting dalam perpolitikan, ekonomi, sosial dan budaya. Tentunya Koba berkembang sebagai pemukiman yang maju, beradab dan ramai penduduknya, setidaknya 100 orang sesuai informasi M.H. Court di atas. Dan semuanya lenyap setelah kedatangan pasukan VOC dalam rangka menumpas perlawanan yang dilakukan Sultan Anom Alimuddin, putranya Raden Klip dan bangsawan Bugis bernama Arung Mapala. Koba kembali sepi ditinggalkan penduduknya dan menjadi hutan kembali atau lahan pertanian penduduk lokal sekitarnya.
Informasi M.H. Court bahwa Koba berpenduduk 28 orang Melayu ini jangan sampai menyempitkan pandangan kita, seolah-olah tidak ada kampung lain sekitar Koba yang berpenduduk saat itu. Kembali kepentingan Inggris yang hanya fokus pada eksploitasi timah, maka mereka mencatat yang berhubungan dengan wilayah produksi timah. Perkampungan sekitar Pangkalpinang dan Koba telah berkembang, baik di pesisir pantai timur maupun pendalaman dan pesisir barat pulau Bangka sebelum dibukanya tambang timah. Dari 3 peta buatan Inggris tentang Pulau Bangka, terdapat beberapa kampung selain Koba, seperti Jerak, Lirak, Godong-selan dan Village of Batin Marawang. Kemudian peta-peta yang dibuat 3 tahun setelah dikuasai Belanda atau tahun 1819, jumlah kampung yang tercatat semakin banyak, seperti Roti Padang, Lantjong, Medang, Nusa Parit, Randang, Mlumut, Ulu, Seronai, Singnam, Patrak, Pupot, Latjop, Mankaai, Paniankar, Manti, Dinding Papan, Papan, Tanjung Gunong, Grabak dan Pinang. Rasanya tidak mungkin dalam waktu 3 tahun bisa memobilisasi penduduk untuk membuka perkampungan tersebut. Prosesnya sudah lama, hanya tidak tercatat oleh M.H.Court saat berkunjung di wilayah Bangka Tengah. Penduduk kampung bermata pencarian sebagai petani ladang, rumah panggung saling berjauhan dan jalur transportasi mengandalkan jalan setapak dan aliran sungai.
Pembukaan 4 tambang timah oleh 28 orang Melayu dari Mentok telah menghasilkan 150 pikul pada tahun 1816 menandakan era baru penambangan timah di wilayah tengah pulau Bangka. Pada masa Kesultanan Palembang, wilayah tambang timah terfokus di bagian barat dan utara pulau Bangka, seperti Ranggam, Belo, Tempilang, Jebus, Klabat, Panji, Mapur, Lumut, Sungailiat, Merawang dan Pangkalpinang. Hanya sebagian kecil pulau Bangka sebelah tengah-selatan yang terdapat tambang timah, seperti Toboali dan Permis. Di era Inggris, terjadi pembukaan tambang baru di wilayah ini dan dikembangkan pada masa Hindia Belanda. Dampaknya terjadi penyebaran penduduk yang berasal dari China untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja baru.
Data penduduk pada tahun 1848 dapat ditemukan dalam buku Schilderungen aus Holländisch Ostindien, karya dr. F. Epp dan terbit pada tahun 1852. Pada halaman 209, terdapat rincian data penduduk Bangka yang terdiri dari 26.291 orang Bangka, 4.903 orang Melayu dan 10.052 orang China. Berdasarkan komposisi jenis kelamin terdiri 23.538 laki-laki dan 17.708 perempuan. Total penduduk 41.246 jiwa mendiami 482 kampung di Pulau Bangka.
Wilayah Bangka Tengah terdiri dari 3 distrik yakni sebagian Pangkalpinang, Koba dan Sungaiselan. Distrik Koba terdiri dari 42 Kampung dan jumlah penduduk 2.332 jiwa yang terdiri dari 1.971 orang Bangka, 52 orang Melayu dan 309 orang China. Distrik Sungaiselan terdiri dari 51 kampung dan jumlah penduduk 4.225 jiwa yang terdiri dari 3.289 orang Bangka, 99 orang Melayu dan 837 orang China. Penggabungan jumlah penduduk distrik Koba dan Sungaiselan menghasilkan angka sebesar 6.557 jiwa. Dari segi etnisitas, Orang Bangka mendominasi penduduk distrik Koba dan Sungaiselan dengan masing-masing mencapai 78 % dan 85 %. Sementara orang Melayu merupakan keturunan dari Kesultanan Palembang maupun bangsawan Mentok yang ditempatkan sebagai penguasa lokal dan berdiam di ibukota distrik hanya 2 % dari jumlah penduduk. Orang China bekerja di tambang-tambang timah mencapai 13 % di distrik Koba dan 20 % di distrik Sungaiselan. Data penduduk berdasarkan jenis kelamin di wilayah Distrik Koba dan Distrik Sungaiselan belum ditemukan. Rincian sebaran penduduk distrik Koba dan Sungaiselan diuraikan oleh Dr. F. Epp di halaman 212 sebagai berikut :
“Koba, der Sitz eines Assistant Adnubustrateurs, welcher an Toboaly untergeordnet ist; ein kleiner ort mit ungefähr 30 mann Besatzung, liegt an der Südostküste von Banka. Zwischen diesem und dem vorigen Platze liegt Fahrzeuge (Prauwen) gegen die Seeräuber unterhält. Zu Koba gehören : Koba 1029, Pakko 833, Kaju-arang 238 die minen 132 Einwohner.”
“Sungiselan , ist der für Bankakotta neu angelegte Platz mit 30 Mann Besatzung. Der Administrateur war dem von Pankalpinang untergeordnet. Kottawaringin und Tampelang waren unter der englischen Herrschaft ebenfalls Stapelplätze, sind aber jetzt verlassen. Zu Sungiselan gehören: Sungiselan 1581, Ayerangat 771, Permisang 450, Pinjampar 253, Balar 501, Pring 317, Malik 352 Einwohner.”
Data tersebut sangat menarik. Pada awal pendudukan Hindia Belanda, Koba merupakan bagian dari adminitrasi Toboali dan Sungaiselan beribukota di Bangkakota bagian dari adminitrasi Pangkalpinang. Koba dan Bangkakota ditempatkan masing-masing 30 orang pasukan militer Hindia Belanda untuk menjaga keamanan kedua kota tersebut. Terkait jumlah penduduk, jika mengacu wilayah Kabupaten Bangka Tengah sekarang, maka kita dapatkan angka sebesar 6,297 jiwa yang terdiri dari Koba 1.029 jiwa, Kayuarang (masuk kecamatan Lubuk Besar) 238 jiwa, daerah penambangan timah 132 jiwa, Sungiselan 1581 jiwa, Ayerangat (kecamatan Sungaiselan) 771 jiwa, Merawang (kecamatan Simpang Katis) 1073 jiwa, Penagan (kecamatan Simpang Katis) 479 jiwa dan Bukit (kecamatan Namang dan Pangkalan Baru) 994 jiwa. Angka ini pun harus kita analisa kembali karena masih ada beberapa kampung yang kini masuk Kabupaten lain, seperti Bangkakota, Kace dan Cengkoabang. Sementara kampung Pako, Pring dan Malik kini masuk Kecamatan Payung Kabupaten Bangka Selatan. Kampung Penyampar dan Balar masuk kecamatan Simpang Rimba Kabupaten Bangka Selatan.
Setelah tahun 1848 pendataan penduduk Bangka dilakukan pada tahun 1858 dan 1890, namun tidak ditemukan data rincian berdasarkan kampung atau distrik, hanya per keresidenan. Misalnya penduduk Keresidenan Bangka pada tahun 1858 berjumlah 49.500 jiwa, terdiri orang Erop 89 jiwa, China 16.645 jiwa, Asia Oreintal 4.426 dan Pribumi 28.340 jiwa. Pada tahun 1890, bertambah menjadi 82.021 jiwa, terdiri orang Eropa 191 jiwa, China 24.404 jiwa, Arab 202 jiwa, Oreintal asing 24 jiwa dan pribumi 57.200 jiwa. Data penduduk tahun 1920 dirinci berdasarkan 5 onderafdeling, dimana saat itu penduduk Karesidenan Bangka berjumlah 154.141 jiwa. Onderafdeling Pangkalpinang terdiri orang Eropa 229 jiwa, Pribumi 23.619 jiwa, oriental asing (termasuk China) 14.057 jiwa dengan total 37.905 jiwa dan kepadatan mencapai 15,98 jiwa per kilometer. Onderafdeling Zuid Banka (termasuk Koba) terdiri orang Eropa 35 orang, Pribumi 23.435 jiwa, Oriental asing 8.975 jiwa dengan total 32.445 jiwa dan kepadatan mencapai 7.88 jiwa per kilometer, terendah di Karesidenan Bangka dan pulau sekitarnya.
Sensus Penduduk 1930 merupakan pendataan penduduk terakhir yang dilaksanakan pemerintah Hindia Belanda dan menghasilkan data yang sangat rinci. Afdeeling Bangka En Onderhoorigheden dan pulau sekitarnya terbagi dalam 5 onderafdeling, yakni Noord Bangka, Soengiliat, Muntok, Pangkalpinang dan Zuid Bangka. Sebagai gambaran awal, jumlah penduduk mencapai 205.363 jiwa dengan kepadatan 17,20 jiwa per kilometer, terdiri berjenis kelamin laki-laki 121.930 jiwa dan perempuan 83.433 jiwa. Berdasarkan etnis terdiri orang Eropa 991 jiwa, Pribumi 107.764 jiwa, China 96.098 jiwa dan orang asia lainnya 510 jiwa.
Wilayah Kabupaten Bangka Tengah saat ini mewarisi sebagian onderafdeling / distrik Pangkalpinang dan Zuid Bangka. Onderafdeeling Pangkalpinang berpenduduk 51.893 jiwa, terdiri laki-laki 30.015 jiwa, perempuan 21.878 jiwa dan menyebar dalam 3 onderdistrik yakni Mendo Barat (kini masuk Kabupaten Bangka) 18.362 jiwa, Pangkalpinang 19.432 jiwa dan Sungaiselan 14.099 jiwa. Onderafdeeling Zuid Bangka berpenduduk 37,546 jiwa, terdiri laki-laki 21.825 jiwa, perempuan 15.721 jiwa dan menyebar dalam 4 onderdistrik yakni Koba 9.790 jiwa, Lepar Eilanden 3,371 jiwa, Pring (Payung) 9.353 jiwa dan Toboali 15.032 jiwa. Hanya onderdistrik Koba, Sungaiselan dan sebagian Pangkalpinang yang masuk wilayah Kabupaten Bangka Tengah. Saat itu Koba dihuni oleh 12 orang Eropa, 5.705 orang pribumi, 4.059 orang China, 14 orang asia lainnya. Sementara Sungaiselan dihuni oleh 7 orang Eropa, 10.186 orang pribumi, 3.896 orang China, dan 10 orang asia lainnya. Jumlah penduduk Koba dan Sungaiselan pada tahun 1930 mencapai 23,889 jiwa. Data ini tidak termasuk penduduk onderdistrik Bukit (kini masuk kecamatan Pangkalanbaru dan Namang) yang masuk wilayah Pangkalpinang.
Sensus pertama pemerintahan Republik Indonesia dilaksanakan pada tahun 1961 dengan jumlah penduduk Kabupaten Bangka mencapai 251.639 jiwa, terdiri laki-laki 128.793 jiwa dan perempuan 122.846 jiwa. Sementara jumlah penduduk Kota Pangkalpinang terdiri laki-laki 30.731 jiwa dan perempuan 29.552 jiwa dengan total mencapai 60.283 jiwa. Sejauh ini belum ditemukan data rincian penduduk perkecamatan dan desa.
Sensus kedua yang dilaksanakan pada tahun 1971 lebih terperinci berdasarkan kecamatan. Penduduk Kabupaten Bangka terdiri dari laki-laki 165.158 jiwa dan perempuan 148.646 jiwa dengan total mencapai 313.804 jiwa. Terbagi dalam 13 kecamatan yakni Mentok 31.719 jiwa, Jebus 30.607 jiwa, Kelapa 19.938 jiwa, Belinyu 34.011 jiwa, Sungailiat 49.954 jiwa, Merawang 22.500 jiwa, Mendo Barat 16.456 jiwa, Pangkalpinang/Pangkalanbaru 29.049 jiwa, Sungaiselan 15.978 jiwa, Payung 13.443 jiwa, Koba 14.242 jiwa, Toboali 30.120 jiwa dan Lepar Pongok 5.787 jiwa. Jika kita menghitung berdasarkan wilayah Kabupaten Bangka Tengah sekarang, maka meliputi 3 kecamatan yakni Koba, Sungaiselan dan Pangkalan Baru dengan jumlah penduduk mencapai 59.269 jiwa, terdiri dari laki-laki 30.453 dan perempuan 28.816 jiwa. Kecamatan Pangkalbaru/Pangkalpinang terdiri penduduk berjenis kelamin laki-laki 14.874 jiwa dan perempuan 14.175 jiwa dengan total 29.049 jiwa. Kecamatan Sungaiselan terdiri penduduk laki-laki 8.216 jiwa dan perempuan 7.762 jiwa dengan total 15.978 jiwa. Sementara kecamatan Koba terdiri penduduk laki-laki 7.363 jiwa dan perempuan 6.879 jiwa dengan total 14.242 jiwa. Jika dibandingkan dengan hasil sensus pada tahun 1930, maka Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) selama 41 tahun mencapai 2,24 persen. Sementara nilai Rasio Jenis Kelamin (RJK) mencapai 106.
Sensus ketiga dilaksanakan pada tahun 1980 menghasilkan data penduduk Kabupaten Bangka mencapai 401.806 jiwa, terdiri dari laki-laki 205.826 jiwa dan perempuan 195.980 jiwa. Penduduk tiga kecamatan yang kini masuk Kabupaten Bangka Tengah yakni kecamatan Pangkalan Baru 37.982 jiwa terdiri laki-laki 19.518 jiwa dan perempuan 18.464 jiwa, Koba 24.119 jiwa terdiri laki-laki 12.716 jiwa dan perempuan 11.403 jiwa. Terakhir kecamatan Sungaiselan 22.943 jiwa terdiri laki-laki 11.779 jiwa dan perempuan 11.164 jiwa. Secara keseluruhan gabungan 3 kecamatan tersebut mencapai total 85.044 jiwa, terdiri laki-laki 44.013 jiwa dan perempuan 41.031 jiwa. Dibandingkan dengan angka sensus sebelumnya, laju pertumbuhan penduduk tinggi mencapai 4,09 persen dan RJK stabil yakni 107. Salah satu sebab tingginya laju pertumbuhan penduduk ini adanya pembukaan tambang timah baru oleh PT Kobatin di wilayah kecamatan Koba sejak Oktober 1971 dan PT Timah di wilayah Lampur Sungaiselan, sehingga mendorong migrasi penduduk, baik dari Pulau Bangka maupun luar Pulau Bangka untuk memenuhi tenaga kerja di perusahaan tersebut. Pembukaan area tambang baru mendorong perkembangan pemukiman baru, seperti di Lubuk Besar dan Lampur.
Pada sensus penduduk keempat yang dilaksankan pada tahun 1990, gabungan 3 kecamatan Koba, Pangkalan Baru dan Sungaiselan menghasilkan jumlah penduduk 101.200 jiwa, terdiri laki-laki 51.644 jiwa dan perempuan 49.556 jiwa. Penduduk kecamatan Pangkalan Baru berjumlah 34.736 jiwa, terdiri laki-laki 17.308 jiwa dan perempuan 17.428 jiwa. Penduduk kecamatan Koba berjumlah 28.895 jiwa, terdiri laki-laki 14.994 jiwa dan perempuan 13.901 jiwa. Penduduk kecamatan Sungaiselan berjumlah 37.569 jiwa, terdiri laki-laki 19.342 jiwa dan perempuan 18.227 jiwa. Terjadi penurunan angka LPP menjadi 1,75 persen dan RJK 104. Kecenderungan ini menunjukkan akumulasi pertumbuhan penduduk secara ilmiah, baik angka kelahiran dan angka kematian, sementara angka migrasi kecil.
Sensus Penduduk terakhir sebelum terbentuk Kabupaten Bangka Tengah dilaksanakan pada tahun 2000 dengan menghasilkan gabungan 3 kecamatan Koba, Pangkalan Baru dan Sungaiselan mencapai 111.107 jiwa, terdiri laki-laki 56.784 jiwa dan perempuan 54.323 jiwa. Kecamatan Pangkalan Baru berpenduduk mencapai 33.492 jiwa, terdiri laki-laki 17.030 jiwa dan perempuan 16.462 jiwa. Kecamatan Sungaiselan berpenduduk mencapai 37.386 jiwa, terdiri laki-laki 19.083 jiwa dan perempuan 18.303 jiwa. Kecamatan Koba berpenduduk mencapai 40.229 jiwa, terdiri laki-laki 20.671 jiwa dan perempuan 19.558 jiwa. LPP semakin rendah, hanya 0.94 %, terendah sejak tahun 1971 sampai sekarang. Nilai RJK stabil di angka 105.
Data penduduk setelah terbentuknya Kabupaten Bangka Tengah berasal dari buku Kabupaten Bangka Tengah Dalam Angka Tahun 2003 yang dikeluarkan Kantor Statistik Kab. Bangka Tengah pada tahun 2004 dengan jumlah total penduduk mencapai 117.751 jiwa, terdiri laki-laki 59.854 jiwa dan perempuan 57.897 jiwa. Penduduk menyebar di 4 kecamatan dengan rincian kecamatan Koba berpenduduk mencapai 40.943 jiwa, terdiri laki-laki 21.102 jiwa dan perempuan 19.841 jiwa. Kecamatan Pangkalan Baru berpenduduk mencapai 36.806 jiwa, terdiri laki-laki 18.392 jiwa dan perempuan 18.414 jiwa. Kecamatan Sungaiselan berpenduduk mencapai 23.031 jiwa, terdiri laki-laki 11.857 jiwa dan perempuan 11.174 jiwa. Terakhir kecamatan Simpang Katis berpenduduk mencapai 16.971 jiwa, terdiri laki-laki 8.503 jiwa dan perempuan 8.468 jiwa. LPP mulai menaik pada angka 1,95 % selama 3 tahun dan RJK sedikit menurun di angka 103.
Memperhatikan hasil data penduduk dari tahun 1971 sampai 2003, RJK cenderung stabil diangka 103-106, artinya jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki hampir sama dengan jumlah penduduk perempuan. LPP naik turun dipengaruhi tingginya migrasi penduduk, terutama pada tahun 1971-1980 akibat pembukaan area penambangan timah baru di Lubuk Besar, Koba, Lampur dan Kebintik. Angka kelahiran dan kematian secara alamiah cenderung menurun akibat gencarnya kampanye Keluarga Berencana (KB) sejak diluncurkan pada tahun 1970 dan meningkatnya standar kesehatan masyarakat dengan semakin mudahnya mendapat fasilitas kesehatan, baik di Posyandu, Puskesmas dan dokter praktek. Untuk membuktikan asumsi tersebut, perlu kajian mendalam terutama sebaran, komposisi, angka kelahiran, angka pernikahan, angka kematian dan migrasi perkecamatan.
Sensus Penduduk ke-6 setelah Indonesia merdeka dilaksanakan pada tahun 2010 dengan jumlah penduduk Kabupaten Bangka Tengah mencapai 278.485 jiwa, terdiri laki-laki 143.464 jiwa dan perempuan 135.021 jiwa. Saat itu ada penambahan menjadi 6 kecamatan yakni kecamatan Koba berpenduduk mencapai 33.396 jiwa, terdiri laki-laki 17.302 jiwa dan perempuan 16.094 jiwa. Kecamatan Pangkalan Baru berpenduduk mencapai 35.317 jiwa, terdiri laki-laki 18.118 jiwa dan perempuan 17.199 jiwa. Kecamatan Sungai Selan berpenduduk mencapai 30.625 jiwa, terdiri laki-laki 16.028 jiwa dan perempuan 14.597 jiwa. Kecamatan Simpang Katis berpenduduk mencapai 22.835 jiwa, terdiri laki-laki 11.722 jiwa dan perempuan 11.113 jiwa. Kecamatan Namang berpenduduk mencapai 14.500 jiwa, terdiri laki-laki 7.504 jiwa dan perempuan 6.996 jiwa. Kecamatan Lubuk Besar berpenduduk mencapai 24.940 jiwa, terdiri laki-laki 13.083 jiwa dan perempuan 11.857 jiwa. Terjadi lonjakan LPP mencapai angka tertinggi selama 48 tahun, bahkan melebihi LPP tahun 1980, yakni mencapai angka 4,63 %. Selain disebabkan angka kelahiran dan kematian secara alamiah, faktor terbesar adalah migrasi penduduk masuk wilayah Kabupaten Bangka Tengah setelah pemekaran tahun 2003. Sementara RJK stabil di angka 108.
Sambil menunggu publikasi hasil Sensus Penduduk tahun 2020, data penduduk Kabupaten Bangka Tengah terbaru diambil dari buku Kabupaten Bangka Tengah Dalam Angka Tahun 2020 yang diterbitkan Kantor Statistik Kab. Bangka Tengah dengan jumlah penduduk Kabupaten Bangka Tengah mencapai 196.196 jiwa, terdiri laki-laki 102.919 jiwa dan perempuan 93.277 jiwa. Penyebaran penduduk meliputi 6 Kecamatan yakni kecamatan Koba berpenduduk mencapai 40.037 jiwa, terdiri laki-laki 21.001 jiwa dan perempuan 19.036 jiwa. Kecamatan Pangkalan Baru berpenduduk mencapai 50.641 jiwa, terdiri laki-laki 26.299 jiwa dan perempuan 24.342 jiwa. Kecamatan Sungai Selan berpenduduk mencapai 34.982 jiwa, terdiri laki-laki 18.575 jiwa dan perempuan 16.407 jiwa. Kecamatan Simpang Katis berpenduduk mencapai 26.283 jiwa, terdiri laki-laki 13.568 jiwa dan perempuan 12.715 jiwa. Kecamatan Namang berpenduduk mencapai 15.636 jiwa, terdiri laki-laki 8.280 jiwa dan perempuan 7.356 jiwa. Kecamatan Lubuk Besar berpenduduk mencapai 28.617 jiwa, terdiri laki-laki 15.196 jiwa dan perempuan 13.421 jiwa. LPP kembali mendekati angka alamiah, hanya 2.18 % dan RJK 110.
Kajian diatas merupakan awal dari penulisan sejarah Bangka Tengah secara komprenhensif, dari berbagai sudut pandang dan dikerjakan bersama-sama dengan sejarawan lainnya. Terutama tulisan ini hadiah special buat kawan yang sangat aktif menelusuri dan menulis toponimi kampung dan kecamatan di wilayah Kabupaten Bangka Tengah. Semoga pengantar singkat ini dapat membantu memahami perkembangan masyarakat Bangka Tengah.
