Artikel

Kembali ke Yogyakarta

Selanjutnya sebagai pelaksanaan butir pertama dari isi perjanjian Rum-Royen yang menyetujui kembalinya Pemerintah Republik Indonesia ke Yogyakarta; maka pada tanggal  6 Juli 1949, Presiden Soekarno dan rombongan kembali ke Kota Yogyakarta dari pulau Bangka. Sebelum berangkat rombongan berpamitan dengan masyarakat Pangkalpinang dan masyarakat Bangka umumnya, bertempat di Balai (sekarang berseberangan dengan Masjid  Al Muhajirin Jalan Balai, kini Jalan KH. Hasan Basri Sulaiman) Pangkalpinang. Pada saat itulah Bung Karno mengatakan satu sloka yang menggugah semangat kebangsaan bahwa “Dari Pangkalpinang Pangkal Kemenangan Bagi Perjuangan”.

Hari terakhir di Pulau Bangka, Rabu tanggal 6 Juli 1949, kesibukan kelihatan di kota Pangkalpinang. Orang berdatangan ke Lapangan udara Kampung Dul, baik masyarakat Bangka, pejabat Belanda maupun pejabat Bangka. Pesawat datang dari Jakarta membawa Delegasi Republik Maria Ulfah Santoso, Dr. Darmasetiawan, Prof. Supomo dan Mr. Sudjono, sekretaris delegasi RI telah tiba di Lapangan udara Kampung Dul. Para pemimpin Republik Indonesia yang ada di Bangka, yakni Soekarno, Muhammad Hatta, Haji Agus Salim, Muhammad Rum, Ali Sastroamijoyo, Mr. Assaat, Mr. AG. Pringgodigdo dan Komodor Suryadarma akhirnya meninggalkan pulau Bangka setelah 197 hari berada di tengah-tengah masyarakat Bangka yang sangat cinta Indonesia.   

Pesawat UNCI yang membawa para pemimpin Republik Indonesia mendarat di Lapangan udara Maguwo jam 1 siang. Kedatangan Presiden, Wakil Presiden, beserta rombongan mendapat sambutan yang hangat dari rakyat Yogya. Mulai dari Lapangan Udara Maguwo sampai di istana negara, jalan-jalan telah penuh sesak dengan rakyat yang menyambut kedatangan mereka. Bukan hanya di jalan-jalan saja, bahkan di atas genteng rumah, di atas pohon-pohon pun rakyat berdiri menantikan kedatangan Presiden, Wakil Presiden, dan para pemimpin lainnya yang sangat mereka cintai (SESKOAD, 1991:313, 316).

Empat hari kemudian, pada Tanggal 10 Juli 1949, Panglima Besar Jenderal Sudirman setelah selama Tujuh bulan bergerilya dengan ditandu, kembali memasuki Kota Yogyakarta. Pertemuan antara Panglima Besar Jenderal Sudirman dengan Presiden Sukarno berlangsung dalam suasana sukacita yang dalam dan pelukan hangat dari kedua pemimpin besar bangsa ini. Selanjutnya untuk menyelesaikan keabsahan hasil perundingan Rum-Royen, pada Tanggal 13 Juli 1949, di Jakarta diadakan pertemuan antara pemimpin-pemimpin kelompok Bangka dengan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Hasil perundingan bahwa PDRI menyerahkan keputusan mengenai isi perjanjian Rum-Royen kepada Keputusan Kabinet, Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP) dan kepada pimpinan angkatan perang. Pada tanggal yang sama Mr. Sjafruddin Prawiranegara menyerahkan kembali mandatnya kepada Wakil Presiden Mohammad Hatta.

 

Penulis: 
Ali Usman Pamong Budaya
Sumber: 
DISPARBUDKEPORA KEP. BABEL
Tags: 
Pengasingan Pemimpin Republik | Pengasingan Sukarno | Pengasingan Hatta | Pengasingan Bangka | Mentok | Menumbing | Pesanggrahan Mentok | Pesanggrahan Menumbing | Pangkalpinang | Revolusi Kemerdekaan

Artikel

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/01/31/pariwisata-indonesia-yang-makin-memukau
DISPARBUDKEPORA KEP. BABEL
DISPARBUDKEPORA KEP. BABEL
DISPARBUDKEPORA KEP. BABEL
12/12/2021 | DISPARBUDKEPORA KEP. BABEL
12/12/2021 | DISPARBUDKEPORA KEP. BABEL
12/12/2021 | DISPARBUDKEPORA KEP. BABEL
12/12/2021 | DISPARBUDKEPORA KEP. BABEL